Jumat, 22 Januari 2016

“Delapan Belas”


Bandung, 18 Desember 2015

Sebelum matahari terbenam, dan sebelum adzan Magrib berkumandang,  saya ingin sekali berkisah. Sebuah kisah tentang tanggal 18 Desember 2015. Bagi saya, tanggal 18 Desember merupakan tanggal istimewa. Mungkin bukan saya saja yang menganggap tanggal itu istimewa. Namun, juga keempat rekan saya yang berjuang bersama mendapatkan  sebuah pengakuan dari salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.
Ya tujuh bulan silam, tepatnya 13 Mei 2015 kami ber delapan (sebenarnya sembilan) melangkahkan kaki ke sebuah gedung bersejarah di pinggiran Jalan Asia Afrika  bernomor 77.  Saya sendiri baru pertama kali melangkahkan kaki ke sana. Masih teringat jelas dalam benak saya bagaimana kami berdelapan memasuki ruangan.
Saya yang kepagian memilih berjalan ke arah timur menuju bangku-bangku cantik yang konon disediakan Wali Kota Ridwan Kamil untuk memperindah pusat kota kembang. Setelah duduk, saya sedikit melamun, mengingat kejadian 1 April 2015 silam.  Hari itu, hari yang juga tak pernah saya lupakan.
Kepagian. Ya, pagi itu saya mendapat undangan dari tujuh manusia cerdas dan berpengalaman di bidangnya. Saya kepagian bukan tanpa alasan. Rupanya, para ‘pencecar’ itu  terlambat datang karena jalanan Asia Afrika ditutup tanpa pemberitahuan. Jadwal ‘pencecaran’ yang seharusnya dilakukan pukul 09.00 WIB, harus molor 30 menit  karena mereka harus mencari jalan menuju hotel tempat dimana saya akan dicecar.
Berhadapan dengan tujuh orang seperti ini, bukanlah hal yang baru bagi saya. Tahun lalu, saya juga pernah menghadapi kondisi serupa. Saya pun masih mengenali muka para ‘pencecar’ itu. Ya, tahun lalu saya memang mencoba peruntungan untuk dapat bergabung bersama media terkemuka ini. Sayangnya, nasib saya kurang beruntung. Jadilah saya kembali mencoba di tahun berikutnya.
Memasuki sebuah ruangan ‘pencecar’ memang agak menakutkan. Saya diberondong beberapa pertanyaan yang sifatnya pribadi hingga berhubungan dengan profesi yang saya tekuni sekarang ini. Dari beberapa pertanyaan yang disodorkan mereka, pernyataan yang berhubungan dengan profesi saya justru tidak bisa saya jawab dengan sempurna. Misalnya pertanyaan tentang nama-nama pemain bulutangkis Indonesia, dan siapa pemain yang terakhir kali direkrut oleh Persib Bandung. Saya nyaris putus asa, namun sedikit lega tatkala bisa menjawab beberapa  pertanyaan tentang kasus GKI Yasmin,  atau larangan kendaraan ber plat B oleh para ‘pencecar’ itu.
Beranjak pada pertanyaan tentang profesi, mereka mulai beralih pada pertanyaan-pertanyaan intim seperti “sudah punya pacar?”, “ kamu anak keberapa?” “kenapa kamu pilih Jawa Barat? Kenapa tidak pilih Jawa Tengah”. Pertanyaan itu masih teringat jelas di benak saya hingga saat ini. Jika diingat, bibir ini selalu tersungging, malu sendiri jadinya.
Setelah bercengkerama hampir satu jam lamanya, saya diminta menulis sebuah artikel. Sama seperti tahun lalu, saya diminta mengambil undian sebagai tema tulisan yang akan saya buat. Benar saja. Keberuntungan seperti berpihak kepada saya. Secuil kertas itu bertuliskan tema “olahraga”, sebuah tema yang saya geluti lima tahun belakangan ini.  Tanpa kesulitan, saya pun menuliskan sebuah artikel tentang kesiapan Jawa Barat dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016.
Di antara tujuh para ‘pencecar’ itu, ada salah seorang yang cukup memikat hati. Kharisma pria berambut gondrong, berkacamata, serta berkemeja kotak-kotak itu seolah menjadi penyemangat saya untuk bisa kembali pada tes selanjutnya. Saat saya meninggalkan ruangan itu, saya disambut senyuman hangat  pria itu. Senyumannya manis, semanis teh panas yang diseduh pada pagi hari. Ah, sudahlah. Senyuman itu sudah punya milik orang lain, bahkan dia telah dimiliki sesosok peri mungil yang lucu dan menggemaskan.
Perjalanan menuju 13 Mei 2015 tidaklah sebentar. Saya harus melewati berbagai tes  mulai dari menghitung deret angka, di maki “zero” saat FGD, sampai akhirnya menjalani tes tahap akhir berupa  tes kesehatan. Semua saya jalani dengan penuh pengharapan. Ya, saya memang sangat berharap bisa segera hengkang ke Bandung. Menuju tempat yang selalu saya impikan sejak dulu.
Sepekan setelah melewati segala rintangan itu, nomor telepon dari Bandung  tampak muncul dari ponsel pintar saya. Alhamdulilah, sore itu menjadi hal yang paling membahagiakan. Saya dihubungi bagian SDM media yang saya idam-idamkan. Setelah yakin saya benar-benar lolos, tiba saatnya saya berpamitan. Pamit kepada orang-orang yang begitu mengasihi saya di Kota Bogor. Kota kecil yang begitu saya rindukan setelah saya hijrah ke Bandung.
Cukup sudah melamunnya. Saya kembali bercerita tentang momen sakral pada 13 Mei 2015.  Pada saat itu, saya dan ketujuh rekan saya, Nur Bany, Ira Vera Tika, Julia Hartini, Sofira Hanan, Gugum Rachmat Gumilar,  dan Gelar Gandarasa memasuki sebuah ruangan sempit di lantai dua. Saya melihat raut kegembiraan pada muka mereka. Waktu itu kami memang pantas untuk gembira. Pasalnya, kami berhasil menyingkirkan ratusan pendaftar yang juga memiliki minat yang sama untuk bergabung bersama media ini. Oh ya, saya hampir lupa. Teman saya satu lagi, Luftan M Meilana datang terlambat. Dia terlambat karena harus mengantarkan ibunya ke sekolah.
Di ruangan tersebut, kami disambut oleh dua sosok ramah senyum.  Namanya Pak Asep dan Pak San-san. Oh ya saya hampir lupa. Kami juga berjumpa dengan Bu Citra,  bagian dari SDM yang selalu menyambut kami dengan senyuman  hangat, sehangat nasi padang dengan empal yang mengeyangkan. Hmmm,kenapa saya jadi ngelantur?
Lanjut lagi ke cerita  13 Mei 2015. Saya sedikit lupa posisi duduk kami berdelapan. --kenapa berdelapan? ya karena rekan kami Rizki Subardi (layouter Pikiran Rakyat yang lolos menjadi calon wartawan) datang belakangan--. Yang jelas kami langsung mendapatkan ucapan selamat bergabung.  Kata bergabung di sini sebenarnya masih dalam tahap 80 persen, karena 20 persennya akan ditentukan oleh masa pelatihan tiga bulan. Jika lolos dari masa itu, maka kami akan mendapatkan surat keputusan pegawai kontrak waktu tidak tertentu dengan masa percobaan tiga bulan, sebelum akhirnya  resmi diangkat menjadi karyawan tetap. Cukup panjang bukan?
Setelah melewati obrolan panjang, tibalah saatnya membubuhkan tanda tangan. Sebuah perjanjian yang  akan terus saya ingat, karena  cukup sulit untuk menggapai semua itu. Saya masih ingat sedikit perjanjian kontrak di situ.  Dalam perjanjian tersebut, kami harus menjalani masa pelatihan, dengan hak per hari Rp 75000,- dengan tambahan uang makan dan uang bensin yang besarnya kira-kira Rp 35000,-. Saya sedikit lupa, yang jelas uang tersebut menurut saya hanya cukup untuk membayar kos-kosan dan juga makan sehari-hari. Selebihnya, saya harus sangat-sangat berhemat, dan sedikit mengorek sisa tabungan saya yang juga habis untuk biaya bolak-balik Bogor-Bandung selama menjalani tes seleksi.
Oh ya, kenapa judulnya 18 Mei 2015, bukannya 13 Mei 2015? Jadi begini,  18 Mei 2015 merupakan hari pertama dimana kami bersembilan mengikuti masa percobaan. Hari itu saya hitung sebagai hari pertama saya bergabung bersama Pikiran Rakyat,  sesuai dengan isi dalam perjanjian dalam kontrak antara  saya dengan SDM Pikiran Rakyat.
Oke lah kalau begitu, mungkin cerita tentang 18 Mei 2015  berhenti sampai di sini saja.  Namun, sebelum mengakhirinya, saya akan sedikit memperkenalkan kedelapan rekan senasib sepenanggungan yang mungkin menganggap tanggal 18 Mei 2015 sebagai hari istimewa mereka.

1.      Gugum Rachmat Gumilar
Gugum ini bisa dibilang angkatan kita yang paling matang.  Sama seperti saya, sebelum menginjakkan kaki di Asia Afrika, Gugum tiga tahun mengabdi di sebuah koran nasional yang berbasis di Jawa Barat.  Pertama kali kenal Gugum saat  satu kelompok di FGD. Pada forum itu, gugum mendapatkan peringkat pertama versi kelompok karena kefasihannya dalam mengemukakan pendapat. Di antara kami, Gugum memang paling bisa diandalkan dalam hal penulisan. Mungkin karena badannya kurus dan ceking, Viking sejati ini  jadi gesit kesana kemari. Oh ya, Gugum ini suka sekali dengan segala cerita tentang sejarah. Gugum memang jagonya sejarah dan pervikingan.
2.      Ira Vera Tika
Pertama kali kenal anak ini, cukup dua kata saja untuk menggambarkannya. Super berisik. Pas kenal, ternyata dia memang berisik, cocok dengan  keseharian saya yang juga berisik.  Ira ini lulusan Jurnalistik FIKOM Unikom. Karena  fresh graduate, anak ini pas awal  sering bertanya. Namun, tulisannya juga bagus.  Oh ya, di antara kami, anak ini paling sering ‘menyesatkan’. Kenapa menyesatkan? Beberapa kali Ira memberikan informasi yang menurut dia benar. Nyatanya, info itu selalu salah. Walaupun kadang bikin kesal, tetapi anak ini paling  mudah mencairkan suasana karena ‘kebodorannya’. Oh ya, kemahirannya mengorek informasi tentang gosip dunia perkantoran, anak ini sering saya sebut sebagai wartawan investigasi. Dia juga partner gosip dan makan jengkol saya selama masa pelatihan dan percobaan.
3.      Gelar Gandarasa
Pertama kali kenal anak ini saat FGD juga. Kesan pertama adalah kebalikan dari Ira. Sangat pendiam. Jika tidak ditanya, maka jangan berharap dia akan menyapa. Satu hal yang sangat saya ingat, Gelar adalah  calon wartawan yang mengajukan diri untuk menjadi peringkat terakhir pada sesi FGD.  Ya, pada saat FGD, Gelar memang tidak banyak memberikan sumbangsih. Bahkan sang penguji mengatakan, kalau dia berlagak seperti bos. Namun, itu hanya cerita lama si Gelar. Setelah kenal, anak ini rupanya juga cerewet. Hal yang saya ingat adalah saat dia mengatakan, “daerah ini tuh keras”.  Gelar yang suka sekali mengucapkan kata “keras” di setiap area peliputannya.
4.      Shofira Hanan
Pertama kali kenal, saat menjalani tes kesehatan. Anak ini seperti gemar membaca. Kemana-mana selalu membawa buku bacaan yang  lumayan tebal. Gayanya yang khas dengan kacamata bundar dan paras yang enak dipandang, membuat dia cukup mencuri beberapa pria seangkatan.  Tidak perlu disebutkan siapa saja pria-pria itu.  Cukup kami yang tahu. Di antara yang lain, saya memang kurang begitu dekat dengan Shofira.  Kurang dekat dalam artian, tidak seintens saya bersama Ira, Gugum, atau Gelar. Untuk urusan bertukar pendapat, terutama urusan perkantoran, kami sering saling curhat. Oh ya, Sofi ini penyuka Chelsea dan juga sangat betah di kantor. Spot favoritnya adalah bangku pojok bekas ruang online . Di sana, Sofi bisa duduk berjam-jam dengan headset kesayangannya.
5.      Julia Hartini
Pertama kali kenal dekat saat menjalani tes kesehatan. Sama seperti Sofi, Jule, panggilan kesayangan kami kepadanya, juga sangat gemar membaca. Lulusan sastra Indonesia ini juga gemar sekali menulis cerpen. Bahkan, beberapa cerpennya pernah dimuat di koran tempat kami bernaung, dan beberapa media cetak besar lainnya. Saya juga sangat berterima kasih kepada Jule karena dia adalah teman yang mengantarkan saya mencari kos-kosan di daerah Jalan Macan, Bandung.  Kalau tidak ada Jule, sudah pasti saya bingung mencari kosan yang dekat dengan kantor. Sayangnya, perjumpaan saya dengan Jule di koran ini hanya tiga bulan. Jule masih harus berkelana mencari tambatan lain, karena pertimbangan berbagai hal dari kantor. Oh ya, Jule ini anaknya gemar menyanyi. Satu hal yang sangat saya ingat, adalah perjuangan dia menunggu salah satu mentor kami untuk bimbingan. Saya dan Gugum pun harus menunggu Jule beres bimbingan hingga pukul 00.30. Jule memang gigih dan pemberani.
6.      Lutfan Meilana
Di antara kami bersembilan,  Luftan ini bisa dibilang  angkatan kami paling muda.  Anaknya sangat kritis,  tetapi juga humoris. Saya masih ingat, Lutfan datang sangat terlambat pada sesi psikotes. Namun, saya yakin dia cerdas sehingga bisa tembus hingga tanggal 18 Mei 2015.  Salah satu momen yang tidak akan saya lupakan, saat seorang mentor kami mengatakan jika Lutfan mewawancarai tokoh imaginer. Saat percobaan, dia memang menuliskan  narasumber yang  ternyata sudah meninggal. Sejak peristiwa itu, saya sering mendengar lutfan jarang masuk kantor, karena sakit. Benar saja,  rupanya dia memang sakit, dan gagal lolos ke tahap selanjutnya.
7.      Nurbany
Pertama kali kenal Bany  saat mengikuti psikotes. Kami berdua datang kepagian. Berbicara tentang Bany, banyak yang bisa digambarkan. Pertama kenal memang sepertinya pendiam. Namun, setelah kenal lama, perilaku ‘bocor’ nya bisa disejajarkan dengan saya dan Ira. Bany anaknya juga tangguh.  Salah satu berita Bany yang paling saya ingat adalah saat dia meliput tentang festival burung di Cimahi.  Mungkin sampai sekarang, Bany juga akan ingat berita itu, karena gara-gara berita itu Bany harus mentoring sampai  menjelang tengah malam.  Di antara anak-anak yang lain, saya memang paling dekat sama Bany dan Ira. Sayangnya, Nurbany tidak lolos tes tahap percobaan. Meskipun demikian, kami tetap bersahabat, dan kegiatan menggosip bersama  menjadi ritus yang sering kami gelar setelah membereskan pekerjaan kami. Oh ya, saat ini Bany  juga kembali ke dunia jurnalis dengan bernaung di sebuah media online nasional. Bany memang tangguh, semoga dia semakin hebat.
8.      Rizky Subardi
Pertama kali kenal Rizky justru saat menginjakkan kaki di kantor Asia Afrika. Rizky adalah satu-satunya calon wartawan dari internal kantor. Sebelum lulus S1 hukum Unpad, Rizky  terlebih dahulu bekerja sebagai layout selama empat tahun.  Rizky ini salah satu ‘geng malam’ kami. Disebut geng malam, karena kami kerap menghabiskan waktu untuk sekadar bercerita di waktu malam hari.  Berbicara tentang sosok Kiki yang bisa diungkapkan mungkin murah senyum dan baik hati. Oh ya dia juga pandai memasak.  Rizky merupakan laki-laki beruntung yang mendapatkan hati  Shofira. Jangan ditanya berapa lama dia  harus melakukan sesi pendekatan. Walaupun pada akhirnya Kiki gagal  tes tahap selanjutnya,  Rizky tetap bahagia karena bisa memenangkan hati  Shofira. J


Penampakan foto kami tanpa Rizky Subardi,  dari kanan ke kiri : (Gugum, Gelar, Jule, Ira, Windi, Sofira, Bany, Lutfan, Pak Asep).*

Mungkin ini saja cerita “delapan belas” dari saya.  Untuk cerita lebih lengkapnya, bisa disimak pada tulisan blog saya selanjutnya.

Terima kasih sudah meluangkan membaca J


Selasa, 19 Januari 2016

Menyusuri Pesona Primadona Kulon Progo


Bandung, 19 Januari 2016

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Akan tetapi, sore di di Pantai  Glagah, Kecamatan Temon, Kulon Progo, Provinsi Yogyakarta, Minggu, 27 Desember 2015 masih terasa terik.  Kendati demikian,  para pelancong di kawasan wisata bahari ini tampak antusias menikmati sajian debur ombak laut Selatan sembari menunggu senja tiba.
Ya, Pantai Glagah memang sudah sejak lama menjadi wisata primadona di Kulon Progo. Berkunjung ke pantai itu beberapa kali,  rasa bosan tak pernah menghinggapi. Pantai ini tak hanya menawarkan keindahan debur ombak laut Selatan yang garang.  Hamparan  laguna yang luas dengan gundukan pasir dan tanaman pantai di tepiannya juga terasa memanjakan mata.
Laguna di Pantai Glagah merupakan salah satu fenomena alami yang tidak banyak dimiliki pantai-pantai di Indonesia.  Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, laguna merupakan danau asin dekat pantai yang dahulu merupakan bagian laut yang dangkal. Fenomena tersebut terjadi karena  peristiwa  geografi dimana   ombak laut di daratan  terjebak pada cekungan yang cukup dalam.
Salah seorang pelancong menaiki perahu wisata di Laguna, Pantai Glagah
Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.

penumpang perahu wisata menikmati pemandangan Laguna di Pantai Glagah
Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
 Pada masa liburan seperti akhir tahun kemarin,  sudah dapat dipastikan kawasan Pantai Glagah akan diserbu ratusan bahkan ribuan pelancong. Terletak 40 kilometer di Barat pusat Yogyakarta, dan 10 kilometer dari tugu perbatasan Provinsi Yogyakarta – Provinsi Jawa Tengah, membuat Pantai Glagah menjadi destinasi pilihan warga Yogyakarta ataupun warga Kabupaten Purworejo yang ingin berlibur. Aksesnya yang mudah, ditambah  harga tiket masuknya yang terjangkau juga menjadi nilai tambah Pantai Glagah yang semakin menawan ini.

Ada dua alternatif jalan yang bisa dilalui untuk menuju pantai ini. Dari arah Yogyakarta menuju  Kabupaten Purworejo,  pengunjung bisa melalui gerbang Pantai Glagah di Kecamatan Temon. Sementara  jika dari arah Kabupaten Purworejo,  pengunjung bisa melalui  Jalan Daendles, yang bisa ditemui setelah melewati  tugu perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah. Dari perempatan  Jalan Daendles, pengunjung berbelok kiri sampai menemukan ada plang  masuk dalam kawasan Pantai Glagah.  Hanya dengan membayar  tiket masuk sebesar Rp 1.500 per orang, ditambah biaya kendaraan Rp 1.000 untuk roda dua, dan Rp 1.500 untuk roda empat,  pengunjung sudah dapat menikmati keindahan panorama pantai berpasir hitam ini.
Penampakan Tetrapod pada dermaga Pantai Glagah, Kecamatan Temon,
Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Para pengunjung  berjalan di sepanjang dermaga Tetrapod di Pantai Glagah,
Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. 
Menyusuri Pantai Glagah di jamin tidak ada bosannya. Di sepanjang jalan menuju Pantai Glagah, pengunjung dapat menyaksikan keindahan Samudra Hindia di sisi Barat dan  puluhan tambak udang di  bagian timur.  Sebagai masyarakat pesisir,  memiliki tambak udang, lobster, dan sejenisnya memang sudah menjadi budaya masyarakat Kulon Progo yang tak bisa ditinggalkan.
Setelah memarkirkan kendaraan di tempat parkir yang disediakan, pengunjung langsung disambut  hamparan laguna yang  sangat indah. Perahu-perahu wisata di tepian laguna tampak sudah menanti untuk dinaiki.  Laguna yang tenang juga memungkinkan  pelancong untuk mengayuh dayung kano.  Perahu bebek warna-warni juga disewakan untuk memenuhi hasrat bermain air di laguna.
Ingin berenang di laguna? Bisa saja. Ombak besar di Pantai Glagah membuat pihak pengelola melarang pengunjung untuk berenang. Sebagai gantinya, para pelancong bisa berenang di laguna yang tenang dan mengasyikkan.
Puas bermain di laguna,  pelancong bisa menuju ke area dermaga pemecah ombak  di sisi barat pantai. Ratusan tetrapod yang berjajar di sepanjang dermaga dengan pongahnya memecahkan ombak laut yang garang. Sensasi berkejaran dengan ombak juga dapat dirasakan di  ujung dermaga ini. Beberapa pelancong  tampak berdiri menghadap ke timur tak jauh dari ujung dermaga. Mereka  mengambil momen dimana ombak tinggi menjulang di belakang mereka. Hal itu pula yang dilakukan salah seorang pelancong asal Bogor, Jaenal Abidin (26).  Pria ini berpose membelakangi ombak, dan meminta rekannya untuk mengabadikan momen  saat  ombak  garang menjulang mengarah kepadanya.
“Rasanya beda saja. Saya baru kali ini melihat ombak sebesar ini. Di pantai yang sering saya kunjungi, ombaknya besar,tetapi tak sebesar ini. Di sini juga ada spot foto yang menegangkan. Saat ombak datang, perasaan kita seperti akan terbawa, tetapi tenang saja, foto di area sini aman, asalkan tidak terlalu dekat dengan pagar pembatas,” ujar Jaenal.
Seorang pelancong memandangi ombak Pantai Glagah
Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.

seorang memancing saat ombak tengah pasang di Pantai Glagah
Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
Tak hanya untuk tempat ber foto ria,  dermaga pemecah ombak juga menjadi surga bagi para pemancing. Mereka akan rela duduk berjam-jam di antara tetrapoid yang ada, sambil sesekali menarik pancingan, berharap  ikan besar terperangkap jebakan mereka.  Salah seorang pemancing asal Purworejo, Hengkang Bara (27) mengungkapkan,  memancing di laut memiliki sensasi tersendiri.  Biasanya, para pemancing menggunakan teknik pasiran, yakni teknik memancing menggunakan joran panjang dan timbel yang beratnya mencapai  80 hingga 100 gram.
“Biasanya saya mancing dari pagi, berangkat jam 6, nanti sore menjelang matahari terbenam baru pulang ke rumah. Banyaknya ikan tergantung ombak. Makin kecil makin bagus. Bisa satu ikan saja tetapi beratnya 8 kg, malah ada juga yang sampai dapat ikan yang beratnya 20 kg,”  kata Hengkang saat dijumpai di Pantai Glagah.

Pemandangan pantai layaknya di Pantai Kuta, Bali juga bisa dilihat di sisi barat laut dermaga.    Puluhan  payung berjajar rapi di antara hamparan pasir berwarna hitam. Di sana,  para pelancong bisa menikmati  keindahan  debur ombak dari kejauhan. Jangan buru-buru beranjak dari pantai ini sebelum matahari terbenam. Tunggulah  hingga semburat senja menghiasi langit  Glagah.  Duduk dan menghadaplah ke barat di sisi dermaga pemecah ombak, atau duduk di hamparan pasir di barat laut.  Suguhan cahaya emas yang memantul sempurna dari permukaan laut dan menyusup melewati celah tetrapod menjadi klimaks dari pesona Pantai Glagah.
Semburat cahaya jingga dari matahari menyembul di antara dua tetrapod
Pantai Glagah, Kab. Kulon Progo, Yogyakarta

Jika pengunjung ingin menyaksikan kesakralan ritus Hajad dalem Labuhan Kadepaten Pura Pakualaman,  maka datanglah ke Pantai Glagah pada 10 Muharram atau 10 Sura menurut penggalan Jawa. Dilansir dari situs resmi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo, ritus ini merupakan  ritus yang digelar Kadipaten Pakualaman.
Menurut beberapa warga sekitar, upacara tersebut merupakan ritus tahunan sebagai bentuk wujud raja syukur kepada Sang Pencipta. 
Seorang pelancong menikmati matahari tenggelam di Pantai
Glagah, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
Ritus tersebut diawali dengan upacara kecil di Pesanggrahana Puro Pakualaman di Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulon Progo.  Setelah itu, keluarga besar  Pakualaman akan melabuh ubo rampe –  sesaji berupa hasil bumi (padi, buah, umbi-umbian), kain kebesaran pangeran,  – meliputi tiga gunungan,  dengan prosesi arak-arakan terlebih dahulu dari Puro Pakualaman menuju Pantai Glagah sejauh dua kilometer.
Puncaknya, warga atau pengunjung Pantai Glagah yang mengikuti prosesi Labuhan ini bisa mengalap berkah gunungan yang dilabuh ke laut. Warga Glagah percaya,uborampe  yang sudah didoakan dalam labuhan dapat memberikan berkah kebaikan dalam kehidupan.  Tak heran, jika ritus labuhan ini selalu dinanti  warga atau pelancong yang penasaran tentang prosesi dari ritus tahunan Labuhan ini.

Wisata kuliner
                Berkunjung ke Pantai Glagah, tak lengkap rasanya jika tak menikmati santapan kuliner lautnya. Warung-warung lesehan yang berdiri di sepanjang jalan menuju dermaga pemecah ombak menawarkan santapan hasil laut yang lezat dan mengeyangkan. Salah satu jajanan yang tengah menjadi primadona saat ini yakni olahan undur-undur laut goreng.  Hewan yang memiliki nama latin Emerita atau lebih akrab disebut yutuk atau wrutuk ini dahulu lebih dikenal sebagai umpan untuk memancing.
Namun, beberapa tahun ke belakang, undur-undur laut juga diolah menjadi penganan yang nikmat dan tak kalah dengan kerabatnya seperti udang, kepiting, dan lobster. Undur-undur laut biasanya digoreng dengan tepung.  Harganya pun sangat terjangkau,  yakni Rp 5000 per bungkus. Setiap bungkusnya berisi kurang lebih 10 hingga 15 yutuk.
sumber :Jejaring,net I Undur-undur laut yang dijual di Pantai Glagah.

“Rasanya tidak jauh berbeda dengan udang. Hanya lebih sedikit dagingnya,” ucap Jaenal saat mencicipi undur-undur laut yang dijual di pasar wisata Pantai Glagah.
Selain lezat dan murah, undur-undur laut dipercaya memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Kandungan  asam lemak omega 3 yang dimiliki  undur-undur laut diyakini menaikkan kadar insulin dalam tubuh.  Sehingga, undur-undur laut dipercaya dapat menurunkan kadar gula bagi penderita diabetes.
“Kalau liburan saya bisa jual 25 kilogram undur-undur. Kalau hari biasa paling 5 kilogram saja,” ucap Ngatinah, penjual undur-undur laut goreng.

Jika tak suka makanan laut, pengunjung  Pantai Glagah juga bisa membeli semangka atau melon segar yang dijual petani lokal di sepanjang jalan menuju pantai. Buah naga segar yang dijual di kawasan agrowisata Pantai Glagah juga bisa menjadi alternatif oleh-oleh kerabat dan keluarga. Tertarik menyusuri pesona Pantai Glagah? Silakan  buktikan sendiri keindahannya. (Windiyati Retno Sumardiyani)*** 


*Berkah dari Pantai Glagah

“Ayo kene numpak perahu, rame-rame karo pacare apa karo bojone (Ayo ke sini naik perahu,
ramai-ramai bersama pacar atau suami/istrinya)”


Kalimat itu terlontar dari mulut Ngadiman (50), seorang operator perahu wisata Laguna Pantai Glagah, Kabupaten Kulon Progo, akhir Desember 2015 lalu. Meskipun wajahnya tampak lelah, semangatnya untuk menjajakan perahu kepada pengunjung Pantai Glagah tak pernah surut. Ngadiman dengan sabar merayu para pelancong agar bersedia diajak berkeliling laguna dengan perahunya.

Tak butuh waktu lama bagi Ngadiman untuk memenuhi perahunya. Dalam waktu kurang dari 10 menit, para pelancong mulai menaiki perahu berkapasitas 16 penumpang itu. Sebelum membawa penumpangnya bersafari, Ngadiman menarik bayaran dulu kepada penumpang. Biaya untuk naik perahu wisata ini sangatlah terjangkau. Cukup Rp 5000 saja. 

“Ayo sudah siap untuk naik perahu?,” ucap Ngadiman sebelum menyalakan mesin perahu.

Rute yang diambil Ngadiman cukup lumayan. Perahu tersebut diarahkan menuju utara laguna. Para penumpang diajak menyusuri indahnya laguna yang tepiannya dihiasi gundukan pasir dan pepohonan liar. Mereka pun begitu menikmati keindahan alami tersebut. Beberapa ada yang sibuk mengabadikan keindahan laguna dengan gawai pintar, atau kamera profesional masing-masing. Setelah 10 menit berkeliling, Ngadiman pun membawa penumpang kembali ke dermaga laguna. Tak terlihat raut kecewa dari wajah penumpang. Seluruhnya tersenyum gembira, tanda terpuaskan atas wisata murah yang ditawarkan Ngadiman. 

“Saya kaget disuruh bayar Rp 5000. Ini murah sekali. Saya kira di tempat wisata seramai ini harganya bisa mahal, ternyata tidak. Sangat sebanding dengan pemandangan yang saya lihat,” ucap Diani Eka Rahmi Lubis (27), pengunjung asal Medan. 

Ngadiman merupakan satu dari operator perahu wisata Laguna di Pantai Glagah. Sebelum menjadi operator perahu, Ngadiman sebelumnya adalah seorang nelayan. Hidupnya berubah tatkala Pantai Glagah dipercantik oleh pemerintah daerah setempat. Dia pun menjajal peruntungan dengan menjadi operator perahu wisata.

“Pantai Glagah berkah bagi saya. Dahulu penghasilan saya tak menentu. Kadang bisa melaut kadang enggak. Tergantung cuaca. Saya bersyukur laguna bisa dimanfaatkan menjadi tempat wisata. Dulu paling cuma buat mancing,” kata Ngadiman.

Dalam sehari, terlebih saat liburan, Ngadiman bisa mengangkut puluhan penumpang. Pada saat musim libur seperti kemarin, kurang lebih 27 perahu wisata disiapkan. Sementara pada hari biasa, hanya dua atau tiga unit saja yang dioperasikan. Disinggung mengenai persaingan antar operator, Ngadiman mengaku tak pernah merasakan atmosfer tersebut. Masing-masing operator melakukan strategi dengan menggilir perahu mereka supaya penghasilannya bisa sama rata. 

“Tidak ada istilah persaingan di antara kami. Kita semua sama-sama mencari uang dari perahu, jadi tidak usah takut rejekinya diambil orang,” ucap Ngadiman sambil tersenyum.(Windiyati Retno Sumardiyani)***

perahu wisata yang diparkirkan di tepian Laguna Pantai Glagah
Kabupaten Kulon Progo,Yogyakarta.

Rabu, 30 Desember 2015

Kisah Pilu“Kembang Gadung”


Gending Tatalu menggema di seluruh penjuru Gedung Kebudayaan Amphiteater Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Dr. Setiabudi, 229, Kota Bandung, Senin (21/12/2015).  Suasana semakin khidmat tatkala  langgam Sunda mengalun merdu dari seorang sinden yang duduk bersimpuh bersama para pengrawit.
Pemandangan semakin menarik ketika tujuh penari berparas elok mempersembahkan  tari “Srikandi Mustikaweni”. Dengan lemah gemulai, para penari membentuk formasi yang menarik perhatian. Senyum manis dari para penari pun terus tersungging, seolah meminta hadirin yang memenuhi Gedung Amphiteater untuk terus menatap mereka.
Sajian tari “Srikandi Mustikaweni”  berganti dengan pertunjukan ritus lima nenek renta.  Kelima nenek dengan muka penuh amarah tampak berang karena pada pertunjukan itu, sang pengrawit dan sinden tidak melanggamkan tembang “Kembang Gadung”.
Tembang “Kembang Gadung” merupakan  lagu tradisional  Sunda yang sering dinyanyikan di berbagai pertunjukan. Bagi masyarakat Sunda khususnya Kabupaten Subang,  lagu tersebut dianggap sebagai lagu sakral yang difungsikan sebagai doa untuk mengawali pertunjukan.
Sebelum tembang “Kembang Gadung” disenandungkan,  lima penari berwujud nenek renta terlebih dahulu mempertunjukan ritus pembacaan mantra. Bau dupa pun menusuk hidung, menandai dinyanyikannya  tembang “Kembang Gadung”.
Serangkaian pertunjukan tersebut hanya pembuka pertunjukan teater bertajuk “Kembang Gadung”.  Sajian drama Sunda karya seniman kelahiran Ciamis, Dhipa Galuh Purba dibawakan dengan penuh penghayatan oleh para mahasiswa Pendidikan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia.
Kisah pilu tentang perjuangan pejuang Sunda Kabupaten Subang melawan kompeni Belanda menjadi kisah pilu yang disuguhkan dalam kurun waktu dua jam. Pementasan “Kembang Gadung”  diawali dengan pertunjukan  kesenian Doger, sebuah kesenian yang dihadirkan di kawasan perkebunan Subang.
Bangsawan Belanda pemilik perkebunan, Hofland (Syaiful Ramadhan)  menanggap kesenian Doger  sebagai hiburan bagi kuli perkebunan.  Dalam latar bernuansa Belanda itu,  Hofaln ditemani sang istri, Mavrouw Hofland (Fariska Maulidya)bercengkerama dengan para petinggi  Subang seperti Inspektur Tonny (Sandi jembar), Mantri Polisi Yono (Ruby Dalulansyah), Humandor Hendrik (Ast Johaendi) dan Demang Malik (Rizqy Nugraha) beserta 4 istrinya. Suasana Belanda kental terasa karena perbincangan mereka tak hanya menggunakan bahasa Sunda, namun juga sedikit campuran Bahasa Belanda. Selain itu, busana  dan tata rias para tokoh begitu total, seolah benar-benar menghadirkan suasana penjajahan Belanda pada awal 1940-an.
Perbincangan para kompeni Belanda dan para kroninya  berubah ricuh tatkala Hofland tertarik dengan salah satu penyanyi Doger, Nyai Karsinah (Novia Indriani). Ki Lapidin (Indra Gandara), salah seorang rakyat pribumitak terima Nyai Karsinah dipersunting  Kompeni Belanda. Dia yang mencintai  Nyai Karsinah berusaha menyelamatkan pujaan hatinya dari jeratan Hofland. Adu mulut berujung perkelahian antara Ki Lapidin dengan Mantri Polisi Yono pun menjadi sajian yang menegangkan.
Selain adegan menegangkan, bumbu-bumbu humor juga tertuang dalam pementasan ini. Salah satu babak yang mengundang tawa adalah saat  rumah Hofland dan kroni-kroninya disatroni maling. Para istri pejabat berlarian keluar rumah dengan balutan kemben seperti baru akan mandi. Tokoh pembantu yang diperankan para pria dengan tingkah kemayu juga menjadi sajian yang lucu.
Latar bernuansa Belanda berganti dengan suasana perkampungan seniman Doger di Padepokan Subang Larang.  Panggung pementasan sengaja digelapkan untuk mengganti set latar. Sepasang kakek dan nenek terlihat memasuki panggung dengan raut gembira karena mendapatkan uang ‘kaget’. Sementara dua seniman Doger tampak cemas karena Ki Lapidin tak kunjung kembali.
Kericuhan pun terjadi saat  Demang Malik mendatangi  desa itu untuk mencari Lapidin. Adegan pertumpahan darah antara warga kampung Padepokan Doger Subang Larang dengan pengikut Demang Malik tersaji pada babak ini. Dalam adegan ini, Ki Lapidin diancam oleh Hofland. Jika tidak menyerahkan diri, maka dia akan membunuh Nyai Karsinah dan masyarakat Padepokan Doger Subang Larang.
Pementasan “Kembang Gadung” pun berakhir pilu. Sang pejuang Sunda, Lapidin akhirnya dihukum gantung karena enggan tunduk oleh perintah kompeni Belanda. Dalam keadaan sekarat, Lapidin meminta Nyai Karsinah  menyanyikan langgam “Kembang Gadung”.
/Muji Syukur ka Yang Agung/Ka Gusti Nu Maha Suci/
/Kembang  gadung nu kahatur/ Ka Sadaya kaum dangu/
/Neda hembar hampurana/ Ka Gusti Nu Maha Suci/
/Neda diaping dijaring/Neda sapaat pangriksa//

            Penggalan lirik “Kembang Gadung” itu mengalun pilu dinyanyikan sang Nyai Karsinah. Adegan merobek bagian biru bendera Belanda oleh Nyai Karsinah berujung dengan penembakan Karsinah oleh Hofland menjadi penutup kisah sendu “Kembang Gadung”.


            

Menyusuri Kisah Tentang Donat

Makanan juga seni. Demikian diungkapkan Della Tristani, kurator  pameran Toridal: Pseudo Doughnuts Museum.  Kalimat  pengantar itu terpampang jelas  di sudut ruangan Urbane Gallery, Jalan Cigadung Raya Barat 5,  Cihapeut, Bandung.  Dalam lembaran poster bertajuk “Toroidal-Seni di Atas Lidah”, Della juga menjelaskan jika kulinari masuk dalam kategori seni.  Kulinari dikatakan sebagai seni apabila sejalan dengan konsep seniman.
Dari filosofi tersebut, tujuh mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung bekerja sama dengan kelompok pecinta donat “Ludlow Doughnuts” menggelar sebuah pameran bertajuk “Toroidal:Pseudo Doughnuts Museum” di Urbane Gallery, 11-15 Desember. Tujuh mahasiswa itu di antaranya Della Tristani, Mira Rizki, Hazim Muhammad, Hilmy Pratama, Rahayu Retnaningrum, Rusyan Yasin, Karina Rizkyta, dan Riki Bagja.
Pameran itu didesain selayaknya musem donat. Mengunjungi pameran itu, pengunjung seolah mendapatkan pengetahuan baru tentang asal muasal penganan berbentuk cincin itu. Dinamakan toroidal karena secara bentuk,  donat menyerupai toroidal yakni sama-sama bulat seperti cincin. Donat dalam pameran ini disajikan layaknya artefak karya seni yang memiliki kisah serta perubahan bentuk dan gaya.
Memasuki  ruangan,  pengunjung langsung diminta mengikuti instruksi anak panah untuk menaiki tangga. Anak panah tersebut seperti menunjukkan pengunjung untuk mengikuti sejarah awal mula lahirnya merek donat bernama  “Ludlow Doughnut”.
Kisah “Ludlow Doughnut” berawal  sejak 1885. Pada sebuah kertas berukuran A3, terpampang sejarah berdirinya “Ludlow Doughnut” yang diawali dari  lahirnya Rebecca Joralemon Ludolph.  Rebecca merupakan putri pengusaha kaya rasa William A. Ludolph yang dikisahkan membuat usaha toko doughnuts  (donat) di Kota Phoenix, ibu kota negara bagian Arizona di Amerika Serikat. Kisah-kisah itu terpajang membentuk sebuah timeline yang di pajang pada dinding ruangan lantai dua Urbane Gallery.
 Pada setiap kisah, Della dan kawan-kawan selalu mencantumkan  tahun sebagai petunjuk kapan kisah itu terjadi. Untuk meyakinkan kisah tersebut seperti nyata, foto-foto zaman dulu juga terpampang di sisi kanan atau kiri  latar cerita.
Beranjak dari kisah Rebbeca tentang usaha doughnuts dengan perubahan nama merek “Ludloph” berganti nama menjadi “Ludlow”, suguhan cerita tentang upaya anak Rebbeca, Anthony Ludolph dalam mengembangkan usaha warisan sang ibu juga membuat pengunjung betah bertahan menyusuri kisah demi kisah.
Dalam timeline kisah Anthony di era 1936 turut terpajang sebuah poster “Doughnut On Wheels”. Poster berukuran 210 x 297 milimeter dengan gambar sepeda, dua buah donat, dan tulisan besar “Doughnut On Wheels” berwarna hitam putih seolah dideskripsikan sebagai media promosi toko “Ludlow”. Berbeda dengan kisah Rebbeca, pada kisah Anthony, selebaran advertensi doughnut “Ludlow” lebih banyak ditampilkan. Desain poster disesuaikan dengan tahun pembuatannya. Semakin bertambah usia “Ludlow doughnut”, semakin kekinian pula modelnya.
Kisah “Ludlow Doughnut” pada pameran itu berakhir pada tahun 2010. Pada timeline yang menjadi pamungkas dari kisah toko donat itu, “Ludlow Doughnut” diceritakan mendapat predikat toko donat yang paling disukai dari segi rasa dan kualitas oleh Asosiasi makanan Amerika.
Tak hanya menghadirkan kisah tentang sebuah toko donat, pameran itu juga menyuguhkan artefak instrumen pembuatan donat. Benda-benda itu dipajang rapi di sebuah rak lengkap dengan informasi tahun keberadaan alat tersebut. Selain itu, artefak lain seperti kardus donat usang ber merek “Ludlow Doughnut” juga semakin menguatkan kisah “Ludlow Dougnut” adalah nyata.
Bagi pengunjung yang tak paham benar tentang sejarah awal mula donat,  mereka pasti mengira jika kisah “Ludlow Dougnut” benar adanya. Rupanya, penyelenggara pameran memang sengaja memuat kisah senyata mungkin untuk mengelabui pengunjung. Pameran itu ibarat menjadi sentilan bagi penikmat donat yang selama ini hanya menikmati donat, namun tidak tahu mengenai sejarah donat itu sendiri.
 “Kami sengaja meriset sejarah tentang donat dan membuat kisah itu seolah menjadi sejarah awal mula donat ada. Banyak yang tidak sadar bahwa kisah itu hanya fiksi. Bahkan ada yang sampai menanyakan kepada kami apakah kisah itu nyata atau tidak,” ucap Mira Rizki, salah seorang penyelenggara pameran.
Selain timeline tentang sebuah kisah fiksi tentang donat, dan pameran alat pembuatan donat, proses pembuatan donat juga dihadirkan. Penyelenggara pameran mengibaratkan proses pembuatan donat sebagai sebuah studio bagi seniman.  Jika karya seni lebih mengandalkan indra penglihatan,  maka museum tersebut lebih mengutamakan indra pengecapan sebagai tanda apresiasi.
Penampakan pameran bertajuk “Toroidal:Pseudo Doughnuts Museum” di Urbane Gallery, 11-15 Desember. Tujuh mahasiswa itu di antaranya Della Tristani, Mira Rizki, Hazim Muhammad, Hilmy Pratama, Rahayu Retnaningrum, Rusyan Yasin, Karina Rizkyta, dan Riki Bagja.


Selasa, 07 April 2015

Sepenggal Kisah di Langit Bromo (1)

Selamat Malam Pembaca setia (gaya dodit-red).. 

Udah lama bangeet nih kayanya gak nulis di blog ini, setahun lebih ada kayanyaaah. Hahaha... Ya, mungkin gw terhanyut dalam eforia pekerjaan dan perpacaran.. eaa. eaaa..
Nah, kali ini, gw mau cerita tentang perjalanan gw bersama keempat temen gw ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Yuhuu, seru kan.. 

Rencana mau ke Bromo sudah gw planning  sama temen seperjuangan gw di jaman SMP, namanya si Devi. Kita jauh-jauh hari udah memutuskan buat ke Bromo di long weekend awal April. Alhamdulilah akhirnya kesampean. Awalnya gw berencana berangkat bareng temen gw Diani, tapi sayang,  Diani harus pulang ke Medan karena Nyokapnya  sakit :(. Mau ngajak Irfan (anggota Geng Hitam-red) ternyata dia ada kerjaan. Akhirnya gw pun memutuskan berangkat sendiri dengan modal tiket yang udah dipesenin Diani. 

Jumat, 3 April 2015

Gw sepakat buat berangkat sendiri. Sekitar pukul 13.00 WIB, gw berangkat dari kosan ke Damri naek Ojek. Kondisi gw sebenernya lagi kurang fit, sampe2 gw harus dikerok dulu sama mbah2 yang ada dikosan gw. Pacar gw juga ngediemin gw dulu gara2 gw maksain berangkat. Padahal seminggu sebelumnya gw habis pulang mudik :(.  Tapi Bismillah, akhirnya gw berangkat dah amsyongnya, perjalanan yang gw duga macet nyatanya lancar jaya pemirsah.  Berangkat dari Damri Bogor jam 13.00, gw sampe Bandara Terminal 1A jam 2 kurang. Padahal pesawat gw jam 16.50 hiks.. Jadi weh, gw menjamur di Bandara (gaya banget yak, padahal nyesel gw berangkat naek pesawat hahaha). 

Nah, di Bandara ini gw ada pengalaman lucu.. Mudah-mudahan bukan pertanda buruk yah, dalam sejam gw ketemu dua makluk jadi-jadian (bencong-red). Bencong pertama gw temuin di cafe Bandara pas gw beli minum. Edd daah, itu bencong cantik banget. Sekilas mah gak keliatan kalo itu bencong, tapi kalo udah denger dia ngomong.. WOW.. Cowok bingit.. hahaha.. awas yah bagi para cowok, hati2... penampilan cantik bisa menipu anda :D  Nah,  makluk jadi-jadian yang kedua gw temuin di  lounge Gate A7 penerbangan Jakarta-Surabaya.  Anjir dua pasangan homo ini asyik mesra-mesraan depan gw, foto-foto selfie lagi.. Urat malunya dimana mas?? (dua-duanya dipanggil mbak atau mas yah? 

Ah sudah lahh.. skip crita di atas.. bagian informasi dah manggil-manggil gw buat  naik ke pesawat Lion Air.. bla-bla-bla... (untung ga delay).. dan akhirnya gw pun melayang-layang  selama 1 jam 15 menit menuju Suroboyoo Rek...

Sampai di Surabaya, gw gak langsung dijemput para krucil-krucil yang sudah lebih dulu ada di Surabaya.  Si Devi yang berangkat Kamis malam bareng Julia (Panjul-red)  jemput rombongan dari Semarang  pasangan mas Basar dan Dek Wiwin.  Mereka itu teman kantornya Devi, gw pun baru kenal disitu..  Setelah nunggu hampir satu setengah jam, akhirnyaaaa.. bertemulah sama geng JOWO ini... 

Panjang beneer yah, padahal Bromonya belum diceritain.. Haha... Nah, sabar yah.. di episode dua, nanti gw bakal cerita lagi kelucuan kita selama perjalanan menuju Bromo... terima kasih sudah meluangkan untuk membacaa..


Durung Tamat.. :) 




Kamis, 13 Maret 2014

Bali, Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Part 4

Day 3
Hallow selamat malam menjelang pagi  pembaca budimans..  sorry banget nih gw baru update  cerita di Bali sekarang... soalnya minggu -minggu memang intensitas pekerjaan lagi tinggi - tingginya (tapi tetep yah.. dompet mah masih tipis ajah :p) Udah ah curhatnya,  sekarang gw mau lanjutin cerita hari terakhir kami bertujuh di Bali.. Yah..  nggak kerasa bangeet.. liburannya dah mau beres.. Tapi apa mau dikata.. hehe..

Di hari terakhir ini, kita sebenarnya pengen ke pantai Pandhawa.. karena konon katanya pantai itu super indah. Setelah gw gogling emang bener indah..   cekidot nih penampakannya..


noh penampakannya, ngiler2 dah.. semoga kita bisa kembali ke tempat indah ini lagi.


























Sayangnya, karena keterbatasan waktu, akhirnya kita memutuskan untuk wisata belanja saja hari itu.  Setelah check out dari Hotel S8 Suardana, kita pun menuju destinasi belanja  kita ke :

1. Bali Surfing Outlet (BSO)
Sekali lagi, buat anak - anak gaol,  tempat ini cocok lah buat kalian yang mau belanja baju - baju branded kaya billabong, ripcurl,  quicksilver, roxy dan bla-bla-bla..Ya daripada dibilang bukan anak gaol (padahal di Bali gw terus dibilang si Bibi ma anak2, terutama si Endai ma Irfan yang bulli gw teroos) gw akhirnya mutusin buat beli sendal yang kece.. (padahal sih sendal jepit :D) dan tetep yah.. rekor belanja di outline  masih dipegang mbak Riani :)

nih penampakan kita habis belanja, keliatan kan siapa yang belanjaannya paling banyak :D

Setelah puas di sini, kita pun melanjutkan wisata belanja ke tempat rekomendasi  Riani si petunjuk jalan, yaitu ke :

2. Hawaii Bali
Namanya luar negeri banget ya, padahal ini tempatnya cari oleh-oleh dan bikin kantong kami menipis drastiiis...  Apa aja disini ada loh, mulai dari baju barong,  celana, tas, sepatu, sandal,  sampai pie susu, dan kacang-kacangan juga ada... Pokoke borong lah soalnya murah dan terjangkau banget harganya. Ya tapi meskipun murah, tetap aja duit gw abis,  sampe -sampe gw harus pinjem duit dulu sama boss Riani gara-gara kurang duit.. Ohya biar nggak ribet, buat yang belanjanya banyak mending minta dipackingin ajah, cuma bayar 8 Ribu aja, kita udah nggak usah repot2 pas di bandaranya nanti.


KIRI : Penampakan Hawaii Bali, dan yang kanan mojang Bogor lagi nyobain tuh baju pantes nggak buat dia :D

Nah, udah beres nih belanja blenjenya... tapi ada yang kurang rasanya kalo kita nggak ngerasain pie yang terkenal di Bali.. Makanya kita langsung cuss ke : 

3. Pie Susu  Cap Enak, Denpasar 
Dari Kuta, si Endai langsung tancap gas tuh ke Denpasar Bali. Agak jauh juga sih, perjalananya sekitar 1 jam..Sempet nyasar juga soalnya banyak gangnya.. Tapi akhirnya setelah nanya sana - sini kita pun tiba di  tempat yang jual pie yang katanya enak itu.  Nah si pie susu itu sih kayanya memang enak dan terkenal banget, buktinya kita nggak boleh sembarangan pesen. Disini,  setiap pembeli hanya boleh beli maksimal dua kerdus atau 40 bungkus, katanya sih biar pembelinya kebagian semua (ck ck ck.. gw nggak beli sih, nggak suka susu soale) 

 Penampakan pie yang konon belinya harus mesen dulu, dan pembeli yang belum pesen maksimal hanya boleh beli 40 bungkus alias dua dus. masing2 dus harganya kalo nggak salah 25 Ribu. isinya 20.

Nah, udah komplit semua nih,  barang2 juga dah menyesaki mobil APV sewaan kita.. Karena dah janjian sama Pak Wahyono untuk jemput dia di PT. Indonesia Power, kita pun memutuskan untuk segera balik ke Kuta.. Tapi,   sebelum ketemu Pak Wahyono.. kita mampir dulu ke :

4. Restoran Ayam Betutu cabang Gilimanuk
Sejak awal, kita memang pengen kesini, soalnya Riani mau beli titipan kakanya, sekalian beliin buat calon mertua (eeeh.. maksudnya pak Wahyono :D) Niatnya sih buat nyogok dia, haha.. eh taunya (ah.. nanti gw ceritain yah.. )

 Duh ngeliat gambarnya jadi kepengen makan ayam betutu lagiii... seporsi murah loh, mau beli seekor, setengah ekor bisa... kalo satu ekor biasanya 80 Ribu plus ppn juga jadi 88 ribu.

Haduuh... hari dah mulai sore nih, dan kita pun menuju destinasi terakhir kami yaitu jemput Pak Wahyono...Lucu juga kalo diinget,  sebelum ketemu beliau, kita sempet tebak2n kira-kira pak Wahyono ini boncel juga nggak kaya anaknya.. eh pas ketemu ternyata.. boncel juga.. (piss pak! piss juga Danny)..  haha, tapi baek banget orangnya.. murah senyum... ternyata Pak Wahyono ini asli Semarang, dan bapaknya jangan lupa, orang Purworejo juga kaya gw (dunia ini memang sempet *alaaah)..
Nggak terasa ngobrol sana sini sama pak Wahyono (ternyata istrinya dokter loh), akhirnya kita sampai ke  tempat yang nggak mau kita temuin di  hari terakhir kita di Bali yaitu :

5. Bandara Ngurah Rai
Sediiih,  tapi gimana lagi, Vacation its overr..  kita pun pamitan dulu sama pemilik mobil dan jangan lupa foto bareng dong sama dia :D

Pak Wahyono (ketiga dari kiri), makasih pak Wahyono sudah baik sama kita :)

NB : Tapi ada kejadian agak bikin syok nih,  jadi gini ceritanya, masih inget cerita mobil gores dan penyok gara2 insiden gang Kuta kan.. pas udah mau take off, pak Wahyono mendadak SMS gw dan bertanya, "maaf windi mobil bagian kiri kena yah" JEGGER... bagaikan disambar petir, gw yang agak gugup  pun akhirnya mengiyakan.. dan.. tanpa babibu.. dia bilang minta ganti rugi tapi dengan bahasa yang sopan..  Ya karena kita emang salah, akhirnya kita tetep bayar tuh ganti rugi.. sebesar 500 ribu.. :( katanya sih biaya ganti rugi karna mobilnya harus diperbaiki selama tiga hari.Ya sudah lah... kita iklas pak :)

Padahal yah, sebelum dapet sms JEGGER dari Pak Wahyono, kita  ketawa - ketiwi dengan barang bawaan segambreng di bandara Ngurah Rai loh.. nih penampakannya :


 udah kaya mau pindahan ajah nih bawaan pulang :)

 nguapnya bisa santai dikit nggak ndai :D (sebenernya sih ini foto di Soetta, tapi pengen aja diupload disini.. puas ngliat endai ma irfan dengan muka jeleknyah)

naek ekskalator berjalan dulu yah.. padahal mah balik lagi jalan ke gate 15 :)

Udah capek foto-foto, kita duduk -duduk dulu tuh di gate 15, 


sampai akhirnya ada pemberitahuan kalo pesawat kita bakal menuju ke Bandara Soekarno Hatta, tepatnya pukul 18.20 WITA. Pas udah sampe pesawat Airasia Boeing xxx... ada kejadian lagi.. gw ma siska yang harusnya duduk sebelahan harus berpisah, karena ada bule nggak mau pindah tempat duduk.Akhirnya kita deh yang ngalah buat ngerelain tempat duduk kita diisi ibu dan anaknya, tapi tetep yah biar berpisah si siskung sempet-sempetnya mengabadikan moment tercapek kita di pesawat. 

 itu gw muka lecek ajah kaya cucian belum disetrika,  dan si irfan kayanya mah berdoa dulu biar perjalanan kita lancar jaya..

Daaan, setelah melayang-layang di udara selama  2jam.. akhirnya kita pun tiba di Bandara Soekarno-Hatta.. Ada kejadian sedih dan memilukan disini... betapa tidak coba, barang2 gw di tempat pengambilan barang nyaris ilang, gara2 temen2 gw pada lupa kalo itu  milik gw.. pertama  kerdus berisi jajanan... padahal udah gede2 tulisannya WINDI WE2R BOGOR... ehh.. dengan cueknya si Irfan ngelewatin dan gw harus lari2 biar barangnya nggak muter lagii..  dan yang kedua tas gw, baru juga gw bilang.. tas gw jangan sampe kelewat lagi.. eh... tas gw kelewat lagi.. dan gw pun harus lari-lari lagi...  hiiiks... cukup tau gw.. :(

Abaikan cerita tas kelewat,  karena laper, kita mampir dulu di foodcourt  airport. Nah, disini kita lama ngebrel ngibril,  ngenang kejadian lucu sampai yang ngeselin.. dan... lagi-lagi.. gw jadi bahan bullyian temen-temen gw..(iklas gw ) dan jangan lupa, kita kasih kesan dan pesan setelah menjalani liburan super seru itu di kamera si siska (jadi nggak sabar pengen liat)... dan setelah itu, kita pun pulang ke rumah masing-masing dengan wajah super lecek, menggunakan DAMRI. si Adek + maaciw ke kemayoran, Riani, Endai, dan siskung ke Rawamangun, dan gw ma irfan ke Bogor.. tapi siaaal... Damri ke Bogor lama bangeeet.. gw baru naek jam 11.00 WIB dong... tapi nggak apa-apa deh yang penting, kita semuanya selamet sampai rumah..

Tetep yah, sebelum balik kita foto - foto dulu di shelter DAMRI... cekidot gan foto2 terakhir kita sebelum pulang ke rumah masing-masing.

 abaikan muka cewek yang pake krudung putih item itu, mungkin dia lelah..
tuh saking lelahnya gw, sampe bersandar di bahu riani, kalo nggak di bahu dia, dimana lagi atuh.. :(

Haha... dah beres deh gw cerita... insiden tas kelewat abaikan ajah yah..  gw mah  gak bakal marah sama kalian. biar kalian di sepanjang perjalanan ngebully gw, nyebut gw si multi talent, si  bibi, seksi akomodasi, seksi konsumsi, seksi fotograsi, sampai tukang parkir,  gw iklassss... sungguh gw iklas..  Justru ini perjalanan terseru gw di awal tahun 2014 ini, dengan segala cerita uniknya.. dengan segala kelucuan kalian.. dengan segala tugas kita masing -masing yang sebenernya... ada siih.. satu orang yang nggak melakukan tugasnya.. sapa coba!! (Irfan ngaku nggak lo!)

Oh ya, sebenarnya dari awal kita dah bagi2 tugas loh.. Nih uraiannya :

Siska Adek, Bendharanya anak2 :) nggak ada dia,  runyam urusan duit..

Maaciw alias bang adi,  second drivernya kita merangkap boss :)

Riani sang Navigator, kalo nggak ada dia dan GPS, mungkin kita dah nyasar

Linggar si Endai, si Raja Driver, give applause for him, yang udah naklukin Bali selama tiga hari di Bali

Siska Kiki, si seksi foto2, rekam-rekam.. model jugak.. komplet lah.. ditunggu videonya ya mbak.


gw, Windi,  si Multitalent, seksi konsumsi, seksi akomodasi, seksi dibully..pokoke kabeh lah.. hiiiks.

yang terakhir, si Irfan.. nah ini nih, harusnya jadi tukang angkut barang, tapi  kerjaanya kalo nggak tidur di mobil, makan, ya ngebully gw.. :( awas tuh merem.. nanti nyeblung ke jurang.. hahahaha..


Bali.. balii.. indah banget.. loh... bakal jadi kisah klasik untuk masa depan gw dan temen2 gw bertujuh nih.. mudah-mudahan aja kita bisa kembali lagi kesini, kalo kata si adek sih.. bawa pasangan masing2 yah.. AMIIIN..  Oh ya, gw mau special give thanks ah...

terima kasih buat :
1. Mamahnya Adek, yang udah  bersedia ditumpangin rumahnya..sebelum kita berangkat ke Bali..
2. Pak Wahyono, yang udah  minjemin mobil rental dengan harga murahnya, ya walaupun akhirnya kita bayar mahal juga pak... bisa kali besok di korting ya pak..
3. Hotel Suardana S8, biar ada insiden kloset kita tetep makasih lah.. besok2 cleaning servisenya kalo pengen pup jangan di kamar tamu doong... kita kan geleuh..
4. Hp Samsung Grand, dan Lenovo A706 atas GPS nya.. kita jadi nggak kesasar.
5. Danny Boncel atas kebaikannya jemput kita di bandara.. ahaii, lain kali jemput lagi yak dan.. ke pelaminan.. hahaa..
6. temen2 semua, siska and maaciew yang udah bersedia ngreditin tiket pesawat buat kita, siska yang mau ngreditin hotel buat kita, endai yang mau nyupirin kita sampe masuk angin,  siska yang mau motoin dan ngrekam kita sampe beres, dan juga irfan yang setia ngebully gw dari awal berangkat sampai pulang...
7. Ute yang harusnya ikut, tapi gak ikut gara2 ngambek.. hehe.. piss ya te.. besok2 lo harus ikut kalo kita mau liburan lagi..

Oh ya, terakhir nih.. gw mau kasih tips buat kalian yang mau ke Bali.. cekidot :
1. Bawa barang seperlunya ajah, jangan kaya kita, bawa baju buat semingguan padahal cuma ke Bali 3 hari (colek riani :D)
2. Bikin rundown disana, biar nggak wasting time, pastiin semua destinasi lo kesampaian semua..
3.kalo mau ke Kafe di Bali, cek dulu harganya, jangan kaya kita yang tiba2 ditodong mbak2 kafe Klapa deposit 100 ribu, ujung2nya makan pizza  haha.
4. jangan bawa benda-benda menarik perhatian monyet kalo nggak mau diambil sama nyemot.. terutama kalo mau ke kawasan monyet ya kaya uluwatu, hutan sangeh, dll.
5. kalo baru pertama kali naek pesawat, mending tanya dulu sama temen..pintu pemeriksaanya sebelah mana.. jangan kaya temen gw endai yang main nyelonong aja masuk pintu troli.. haha
6. Siapin duit yang banyak biar nggak kehabisan kaya gw..
7. Pastiin udah pesen hotel yang murah meriah, tapi tetep ada sarapannya, kalo nggak lo pasti disuruh temen-temen lo cari nasi uduk kaya gw
8. Kalo kentut ditempat umum, pastiin dulu ada orang nggak di samping lo, takutnya bau.. atau suaranya kenceng (colek adek :p)
9. pastiin sewa mobil yang murah meriah, dan pemiliknya cakep kaya Danny (halahh)
10. kalo mau naek boat ke bedugul, liat situasi dan kondisi. Kalo berkabut jangan naek, nanti masuk angin :(
11. Bawa kamera dan handycam buat abadiin momen indah lo, rugi kalo nggak..
12. terakhir, pastiin sahabat lo tetep senyum dan ketawa  karena tanpa semua itu, liburan lo nggak bakal menyenangkan..

Hah... lega bangeeet.. akhirnya beres juga ngetik story about Bali... pokoknya makasih teman2 dah kasih gw liburan super seru ini.. Maaf-maaf kate kalo ada kata yang kurang berkenan yak... I LOVE U FULL dah... Setelah ini, gw nggak bakal berenti nulis kok, bakal gw abadiin setiap momen indah di hidup gw dengan tulisan di blog ini.. makasiih yah yang udah baca... :) sampai jumpa di tulisan selanjutnyaaa.

Oh iya kalo mau liat  video perjalanan kita bisa klik  https://www.youtube.com/watch?v=rzooxzvgv_E&feature=em-upload_owner

THE END